Alasan
Heresis Kuat
Aku
hanya ingin kalian tidak hanya menatapku
Aku
ingin keberadaanku benar-benar diakui
Aku
nyata, aku tak fana, aku dapat kau sentuh, aku tak tembus pandang
Berontaku
dalam ketidakpuasanku
Amarahku
dalam diamku
Alasanku
tersirat dalam setiap kejengkelan mata yang memandangku
“Aku ga mau diatur!!
Teserah aku lah, aku mau ngelakuin apa? Kenapa harus Ibu harus mengatur aku terus
sih?” Tolak Heresis untuk mematuhi Ibunya.
Ia berlari keluar rumah
nya sambil menggenggam beberapa batu sihir milik keluarganya. Dengan ini aku akan menguasai dan memiliki
apapun yang aku mau. Aku bisa mengatur siapapun. Aku ga sudi harus nuruti orang
yang lebih rendah level nya dari aku!!
“Heresis, mau pergi
kemana kamu? Mau dibawa kemana batu-batu itu?” Panggil Ibunya, Luminatrix yang
saat itu agak terdengar kesal dan ia melemparkan beberapa kilat sihirnya pada
Heresis. Namun tak ada satu pun kilat yang mengenai Heresis.
Heresis menghilang di balik
kabut yang tiba-tiba muncul dari hutan. Dia terus berlari sampai akhirnya ia
sadar bahwa tak da satupun yang mengejarnya. Suara kaki yang mengejarnya hilang
tergantikan suara sunyi dan dingin.
Di balik kabut yang
tebal ia melihat bayang-bayang sebuah rumah, ia dekati dan memeriksa sekelilingnya.
“Halo...ada siapa di dalam? Adakah penghuninya? Ada orang kah?” Heresis
mengelilingi rumah itu berulang kali hingga ia memberanikn diri untuk membuka
pintu rumah tersebut.
Tak ada seorang pun di
dalam sana. Di dalam rumah itu tertata beberapa perabot yang sangat sederhana;
2 kursi kayu yang rapuh, satu meja kayu yang sudah tak memiliki 1 kakinya,
sebuah kasur yang sudah berserakan dan tak berbentuk, meja hias, dan sebuah vas
bunga berisi bunga mawar yang layu dan belum mekar.
Heresis duduk disudut
ruangan, ia melipat kakinya dan meletakkan kepalanya tepat dilutut yang kini
sampai ke dahinya. Ia pejamkan matanya, berharap tak ada lagi peraturan dan
paksaan yang membuatnya benci akan kehidupan di luar sana.
Kenapa
aku harus menuruti mereka, harus jadi seperti mereka? Mereka lebih rendah dari
ku. Bahkan mereka tak menguasai sihir sedikit pun. Bila aku yang memegang
kendali, pasti Ibu akan lebih bangga dan bahagia. Karena ibu tau, aku tak
pernah membangkang padanya. Tapi aku tak bisa ikuti keinginan ibu untuk hal
yang satu ini. Tak tau kenapa, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku
tak sudi menghormati yang lebih lemah.
Dalam gejolak emosi yang
Heresis rasakan, ia terdiam seketika batu berwarna merah bersinar dan cahayanya
menuju ke dalam jiwa Heresis.
Manusia-manusia
lemah itu hanya akan menghancurkan bumi ini. Dengan apa mereka akan
melindunginya? Mereka tak kenal apapun selain nafsu yang ada di dalam dirinya.
Seharusnya aku yang memipin, seharusnya aku yang berkuasa di bumi ini.
Setelah itu batu
berwarna kuning keemasan memacarkan dan memberikan cahayanya kepada Heresis.
Aku
jahat? Aku tukang pembuat onar? Aku benci saat mereka menatap ke arahku.
Menatap rendah dan remeh. Ada juga yang menatap karena takut padaku. Tak ada
seorang pun yang memperdulikan ku. Kalian tak mau sama sekali memahamiku.
Kalian hanya bisa menyalahkan ku. Membuat ku semakin benci pada kalian.
Batu berwarna biru
melakukan hal yang sama seperti batu-batu sebelumnya.
Tiba-tiba Heresis
menangis. Belum terdengar satu kata pun terucap dari bibirnya. Suara tangisnya
semakin terdengar lirih dan ia mulai tertawa perih.
Aku
tak menyesali semua yang ku perbuat. Aku tak ingin menghormati dan mengakui
manusia lemah itu, karena ku tau kau tak mungkin sehebat diriku. Aku tak bisa
mengakui mereka, karena mereka terlalu angkuh untuk memimpin bumi ini. Aku akan
menghancurkan mereka, menunjukan pada manusia-manusia rendah itu dan
menyadarkannya kalo mereka tak pantas mendapatkan segala kekayaan yang ada di
bumi ini.
Batu hijau terakhir
bersinar, disusul 3 batu lainnya.
Batu-batu sihir yang
memiliki kekuatan yang maha dahsyat bila digabungkan dan akan mendatangkan
musibah bagi manusia. Mengambil kedengkian, kebencian, amarah, dan sisi gelap Wizard untuk menguasai alam bawah sadar
manusia.
Amarah, dengki, benci,
iri, dan segala hal yang membutakan mata akan melemahkan “rasa” siapapun,
sekalipun itu penyihir terkuat atau bahkan setan sekalipun.
Namun sisi gelap juga
akan menguatkan keinginan, dan hasrat tanpa memandang iba bahkan bisa menjadi
kekuatan yang sangat menakutkan dan menghancurkan.
By : Otong
07 Juni 2017




0 komentar:
Posting Komentar