Social Icons

Kamis, 25 Oktober 2012

(Cewe pejuang dan cowo pemalas) PILIHAN HATI



Seharusnya dunia ini belum terbalik. Bukannya isteri yang mencari nafkah, tapi seharusnya suami. Bukan hanya wanita yang dapat tegar menghadapi masalah dan Pria yang meneteskan air mata. Seharusnya pria yang dapat menjaga kesetiaan bukan hanya wanita. Dan seharusnya seorang pria yang dapat mengungkapkan perasaannya pada seorang wanita, bukan hanya berdiam diri, memberi kepalsuan sikap hingga membuat wanita tersakiti.
Rahma adalah seorang wanita yang memiliki mimpi untuk kisah cintanya. Dia ingin dilindungi oleh seorang pria teristimewa yang telah ia pilih, ingin mendapat perhatiannya, ingin menghabiskan waktu berdua walau hanya 5 menit saja, ingin dapat berbagi kisah yang terpendam dalam diri  mereka berdua. Hal yang paling ia inginkan, “KAU DAPAT JUJUR PADA DIRIMU DAN AKU”
Aldo merupakan pria istimewa itu. Terlihat kuat dari luar namun rapuh didalamnya. Bukan lah tipe cowo yang tampan dan diidolakan semua wanita, terkesan dingin bagi yang belum mengenalnya. Pribadi yang sulit ditebak dengan mudah. Jalur didalam otaknya terlalu rumit untuk dijelajahi oleh seorang wanita. Keseriusannya dipertanyakan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.
From secret admirer to my idol
Dua tahun yang lalu sepertinya mustahil untuk dapat dekat denganmu. Aku berjalan terlalu lambat, bahkan seekor siput pun tampaknya dapat mengalahkanku. Perlahan sekali ! aku terus Melatih diriku untuk dapat mengejarmu hingga akhirnya jarak kita tak sejauh sebelumnya.
Hampir satu tahun aku telah mengenalmu. Banyak hal yang berbeda setelah aku mengenalmu. Tak semua hal buruk melekat padamu. Ternyata kau dapat tersenyum ramah, dapat menyapa dengan hangat, dapat mendamaikan hatiku saat ku lihat tawamu. Kau memang tak banyak bicara, tak banyak gaya. Ijinkan aku untuk mengenalmu lebih dalam, lebih dekat.
Rasa kagum ku ternyata berubah menjadi rasa cinta yang sebelumnya tak pernah ku rasakan. Aku pernah mencoba memalingkan hatiku pada yang lain, namun hal itu tak bertahan lama. Hati ini masih tertuju padamu, masih tertuju pada tatapanmu.
Ternyata yang bertahan, dari balik jendela ini, bukan dari bisingnya suara kereta. Jendela ini telah menjadi saksi. Disana terdapat sebuah kursi yang sedang menganggur. Ingin rasanya aku dapat duduk bersebelahan denganmu my idol (Aldo). Cukup untuk mendengarkan suara dan canda tawa kita saat duduk bersama.
Aku harap dapat terwujud....

“Aku wanita yang kuat. Seharusnya aku dapat mengalahkan perasaan lemah ini. Tapi aku salah perasaan ini telah membuatku lemah. Perasaan ini terlalu manis untuk dilupakan. Rasanya seperti cinta pertama yang sebelumnya, belum aku temukan.”
“Aku kira, aku akan berhenti setelah aku mengatakan kata SUKA itu padamu. Perasaan ini tak lagi dapat tertahan. Dari waktu ke waktu rasanya ego ku menuntut untuk dapat lebih dekat denganmu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Terlalu sakit rasanya menanggung perasaan ini.”
Rahma mencoba untuk menyusuri lorong yang gelap itu. Setelah sampai di ujung lorong, ternyata tak ada siapa-siapa. Dia masuk ke salah satu ruangan yang ia sebut RUMAH. Disana ia hanya duduk terdiam sambil membuka salah satu buku bacaan yang tergeletak diatas meja. Beberapa menit setelah itu, terlintas satu bayangan yang berjalan sangat cepat. Perhatian Rahma pada buku yang ia baca teralihkan begitu saja.
Di luar sana duduklah seorang pria dengan kaos lusuh dan celana robek-robeknya. Tampangnya seperti baru bangun tidur. Matanya belum sepenuhnya terbuka lebar. Dia duduk terdiam di depan RUMAH, seperti sedang mengabsen nyawanya satu per satu.
Dari dalam Rahma hanya dapat memperhatikan pria itu. Sesekali senyuman dibibirnya terlihat. Matanya sesekali menghindar saat mata sang pria menatapnya. Dengan santai ia membuka lembaran-lembaran buku itu. Saat pria kembali dalam lamunannya, Rahma mulai  mencuri pandang yang tertuju pada pria itu. Tiba-tiba saja pria itu memanggil nya,”Rahma..”. Dengan cepat Rahma menjawabnya “Ya kak.”  Pria itu memanggil Rahma keluar dari RUMAH. Perasaan Rahma saat itu tak karuan.
“Kamu sendiri aja? Yang lain belum datang?” tanya Aldo pada rahma
“Ga tau ni?! Janjiannya sih jam 12 teng ada disini, tapi belum ada yang dateng.” Jawab Rahma
“Lagi ada keperluan ngedadak kali mereka.”
“Mungkin juga kak. Eh, Kak Aldo baru bangun ya. Belum mandi donk?”
Mereka melanjutkan perbincangan sambil menunggu teman-teman Rahma yang lainnya. Perbincangan yang hanya mereka ketahui berdua. Perbincangan yang membuat Rahma tersenyum seharian itu.
Dear my moon
Terima kasih untuk hari ini. Hanya sebentar kita bertutur kata dan itu pasti. Bercanda di atas kursi. Sampai akhirnya kau harus pergi untuk mandi.
Hari ini akan menjadi salah satu bagian dalam cerita ku. Ingin rasanya aku memanggilmu moon. Dan ingin ku mendengar kata sun saat kau memanggil ku.
My moon, terima kasih untuk hari ini. Semoga esok masih ada cerita antara kita berdua.
Hari demi hari telah berlalu. Tidak begitu sering mereka bertemu. Tidak begitu sering mereka berbicara. Rasa gengsi dalam diri Rahma masih menguasainya. Sedangkan sikap sangat cuek Aldo sulit dimengerti untuk Rahma. Pernah beberapa kali ia mencoba untuk berhenti menyukai Aldo, tapi sayang, memang tak mudah untuk menghapus orang yang telah dipilih oleh hati.
Moon aku ingin menghapus 6 bulan yang ada di atas kita saat itu. Sekarang  hanya tersisa 4 bulan.
Masih terasa di telinga ku saat kau berkata.
“sekarang yang deket sama Aldo siapa? Kamu mau dengerin kata orang atau kamu tau sendiri dari Aldo?”
“jangan terlalu pesimis sama diri sendiri, siapa yang tahu hasilnya seperti apa?”
“kalo sakit, banyakin minum air putih sama banyak istirahat ya”
Dan kata-kata yang lainnya.
Moon, aku sendiri bingung harus kayak gimana. Baru kali ini aku nyesek kalo ngeliat kamu sama cewe lain. Aku harus bisa belajar buat ikhlas, moon. Tolong bantu aku moon
L

0 komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com

Sample Text