Seharusnya dunia ini
belum terbalik. Bukannya isteri yang mencari nafkah, tapi seharusnya suami.
Bukan hanya wanita yang dapat tegar menghadapi masalah dan Pria yang meneteskan
air mata. Seharusnya pria yang dapat menjaga kesetiaan bukan hanya wanita. Dan seharusnya
seorang pria yang dapat mengungkapkan perasaannya pada seorang wanita, bukan
hanya berdiam diri, memberi kepalsuan sikap hingga membuat wanita tersakiti.
Rahma
adalah seorang wanita yang memiliki mimpi untuk kisah cintanya. Dia ingin
dilindungi oleh seorang pria teristimewa yang telah ia pilih, ingin mendapat
perhatiannya, ingin menghabiskan waktu berdua walau hanya 5 menit saja, ingin
dapat berbagi kisah yang terpendam dalam diri
mereka berdua. Hal yang paling ia inginkan, “KAU DAPAT JUJUR PADA DIRIMU
DAN AKU”
Aldo
merupakan pria istimewa itu. Terlihat kuat dari luar namun rapuh didalamnya. Bukan
lah tipe cowo yang tampan dan diidolakan semua wanita, terkesan dingin bagi
yang belum mengenalnya. Pribadi yang sulit ditebak dengan mudah. Jalur didalam
otaknya terlalu rumit untuk dijelajahi oleh seorang wanita. Keseriusannya dipertanyakan
dalam menjalin hubungan dengan lawan jenisnya.
From
secret admirer to my idol
Dua
tahun yang lalu sepertinya mustahil untuk dapat dekat denganmu. Aku berjalan
terlalu lambat, bahkan seekor siput pun tampaknya dapat mengalahkanku. Perlahan
sekali ! aku terus Melatih diriku untuk dapat mengejarmu hingga akhirnya jarak
kita tak sejauh sebelumnya.
Hampir
satu tahun aku telah mengenalmu. Banyak hal yang berbeda setelah aku
mengenalmu. Tak semua hal buruk melekat padamu. Ternyata kau dapat tersenyum
ramah, dapat menyapa dengan hangat, dapat mendamaikan hatiku saat ku lihat
tawamu. Kau memang tak banyak bicara, tak banyak gaya. Ijinkan aku untuk
mengenalmu lebih dalam, lebih dekat.
Rasa
kagum ku ternyata berubah menjadi rasa cinta yang sebelumnya tak pernah ku
rasakan. Aku pernah mencoba memalingkan hatiku pada yang lain, namun hal itu
tak bertahan lama. Hati ini masih tertuju padamu, masih tertuju pada tatapanmu.
Ternyata
yang bertahan, dari balik jendela ini, bukan dari bisingnya suara kereta. Jendela
ini telah menjadi saksi. Disana terdapat sebuah kursi yang sedang menganggur. Ingin
rasanya aku dapat duduk bersebelahan denganmu my idol (Aldo). Cukup untuk
mendengarkan suara dan canda tawa kita saat duduk bersama.
Aku
harap dapat terwujud....
“Aku wanita yang
kuat. Seharusnya aku dapat mengalahkan perasaan lemah ini. Tapi aku salah
perasaan ini telah membuatku lemah. Perasaan ini terlalu manis untuk dilupakan.
Rasanya seperti cinta pertama yang sebelumnya, belum aku temukan.”
“Aku kira, aku akan
berhenti setelah aku mengatakan kata SUKA itu padamu. Perasaan ini tak lagi
dapat tertahan. Dari waktu ke waktu rasanya ego ku menuntut untuk dapat lebih
dekat denganmu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Terlalu sakit rasanya
menanggung perasaan ini.”
Rahma
mencoba untuk menyusuri lorong yang gelap itu. Setelah sampai di ujung lorong,
ternyata tak ada siapa-siapa. Dia masuk ke salah satu ruangan yang ia sebut RUMAH.
Disana ia hanya duduk terdiam sambil membuka salah satu buku bacaan yang
tergeletak diatas meja. Beberapa menit setelah itu, terlintas satu bayangan
yang berjalan sangat cepat. Perhatian Rahma pada buku yang ia baca teralihkan
begitu saja.
Di
luar sana duduklah seorang pria dengan kaos lusuh dan celana robek-robeknya. Tampangnya
seperti baru bangun tidur. Matanya belum sepenuhnya terbuka lebar. Dia duduk
terdiam di depan RUMAH, seperti sedang mengabsen
nyawanya satu per satu.
Dari
dalam Rahma hanya dapat memperhatikan pria itu. Sesekali senyuman dibibirnya
terlihat. Matanya sesekali menghindar saat mata sang pria menatapnya. Dengan santai
ia membuka lembaran-lembaran buku itu. Saat pria kembali dalam lamunannya,
Rahma mulai mencuri pandang yang tertuju
pada pria itu. Tiba-tiba saja pria itu memanggil nya,”Rahma..”. Dengan cepat
Rahma menjawabnya “Ya kak.” Pria itu
memanggil Rahma keluar dari RUMAH. Perasaan Rahma saat itu tak karuan.
“Kamu
sendiri aja? Yang lain belum datang?” tanya Aldo pada rahma
“Ga
tau ni?! Janjiannya sih jam 12 teng ada disini, tapi belum ada yang dateng.”
Jawab Rahma
“Lagi
ada keperluan ngedadak kali mereka.”
“Mungkin
juga kak. Eh, Kak Aldo baru bangun ya. Belum mandi donk?”
Mereka
melanjutkan perbincangan sambil menunggu teman-teman Rahma yang lainnya. Perbincangan
yang hanya mereka ketahui berdua. Perbincangan yang membuat Rahma tersenyum
seharian itu.
Dear
my moon
Terima
kasih untuk hari ini. Hanya sebentar kita bertutur kata dan itu pasti. Bercanda
di atas kursi. Sampai akhirnya kau harus pergi untuk mandi.
Hari
ini akan menjadi salah satu bagian dalam cerita ku. Ingin rasanya aku
memanggilmu moon. Dan ingin ku mendengar kata sun saat kau memanggil ku.
My
moon, terima kasih untuk hari ini. Semoga esok masih ada cerita antara kita
berdua.
Hari
demi hari telah berlalu. Tidak begitu sering mereka bertemu. Tidak begitu
sering mereka berbicara. Rasa gengsi dalam diri Rahma masih menguasainya. Sedangkan
sikap sangat cuek Aldo sulit dimengerti untuk Rahma. Pernah beberapa kali ia
mencoba untuk berhenti menyukai Aldo, tapi sayang, memang tak mudah untuk
menghapus orang yang telah dipilih oleh hati.
Moon
aku ingin menghapus 6 bulan yang ada di atas kita saat itu. Sekarang hanya tersisa 4 bulan.
Masih
terasa di telinga ku saat kau berkata.
“sekarang
yang deket sama Aldo siapa? Kamu mau dengerin kata orang atau kamu tau sendiri
dari Aldo?”
“jangan
terlalu pesimis sama diri sendiri, siapa yang tahu hasilnya seperti apa?”
“kalo
sakit, banyakin minum air putih sama banyak istirahat ya”
Dan
kata-kata yang lainnya.
Moon,
aku sendiri bingung harus kayak gimana. Baru kali ini aku nyesek kalo ngeliat
kamu sama cewe lain. Aku harus bisa belajar buat ikhlas, moon. Tolong bantu aku
moon
L




0 komentar:
Posting Komentar